Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

September 04, 2012

finale : kurre'sumanga toraja

Toraja itu indah, kawan!

Sebelum menginjakan kaki di Toraja, ada baiknya mengetahui sedikit tentang Toraja. Here we come :


1. Dengan pesawat terbang, landing di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan kode IATA : UPG. Jangan bingung! Ujung Pandang = Makassar.

2. Menuju ke Toraja dari Makassar dibutuhkan waktu 9 jam melalui perjalanan darat. 

3. Sepertinya lebih nyaman selama 9 jam perjalanan itu dilakukan pada waktu malam hari, sehingga pada pagi harinya sudah bisa langsung explore. Namun, jangan salah, pemandangannya juga keren. Kiri pantai, kanan gunung, jadi sayang kalau dilewatkan begitu saja. Mungkin lebih baik pergi ke Toraja pada waktu pagi dan pulang ke Makassar pada waktu malam biar gak terlalu wasting time.

4. Banyak moda transportasi via darat. Bisa sewa mobil atau ada juga bis PO Litha & Co menuju ke Toraja. Harganya sekitar Rp.110.000/ sekali jalan. Coba saja googling.

5. Buat yang gak mau capek di jalan bisa memilih opsi naek pesawat udara dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin ke Bandara Pongtiku di Toraja dengan maskapai Dirgantara Air Service yang mengoperasikan pesawat jenis CASA 212 dengan kapasitas 24 orang. 

6. Kota yang dilalui dari Makassar adalah Maros, Bone, Pare-pare, Enrekang, Makale dan Rantepao.

7. Di Maros ada penganan roti isi seperti roti keset yang dalam satu bungkusnya bisa punya beberapa macam rasa, tapi di Makassar, isinya hanya gula merah aja. Ada juga jalangkote, biasa kita tahu dengan nama pastel. Kayaknya gak ada perbedaan signifikan antara keduanya. 


8. Sepertinya untuk wisma/ hostel yang harganya relatif murah, banyak. Biasanya mereka tidak mau di booking terlebih dahulu, jadi lebih suka kalau datang langsung dan bayar di tempat. Ada yang harganya sudah tidak bisa ditawar lagi tapi masih ada penginapan yang bisa ditawar seperti tempat gue menginap. Toraja Palma. Jl. Jurusan Palopo ( Bolu ) - Rantepao, Tana Toraja. Telp : 0423-23789.

9. Udara Toraja relatif sejuk, jadi jangan lupa bawa jaket.


10.Kendaraan pengantin di Toraja, gak seperti di Jakarta yang pake mercy tapi cukup mobil Jeep dengan hiasan khas Toraja.

11. Bagi yang belum pernah coba terong belanda, boleh dicoba di warung-warung makan dengan nama Tamarella. Rasanya segar dan enak.

12. Tiket masuk objek wisata di Toraja dapat ditawar walaupun gak semuanya.


13. Kalau mau beli oleh-oleh khas Toraja, gak cuman ada di objek wisata saja. Di pasar juga banyak tapi jangan lupa teteup harus nawar.

14. Kalau sudah ke pasar, sekalian saja beli kopi Toraja. Rasanya maknyus. Harganya Rp. 8.000,-/ ½ kg.


15. Transportasi yang bisa dipakai selain pete-pete ( angkot ), ada juga bentor.

16. Mayoritas penduduk Toraja menganut agama Kristen. Untuk penguburan mayat yang dikubur di batu itu, banyak yang sudah meninggalkannya karena gak sesuai dengan Iman Kristiani. 

17. Sulawesi berada pada Indonesia bagian Tengah dengan perbedaan waktu 1 jam lebih cepat daripada di bagian Barat.

18. Biaya hidup sepertinya lebih mahal. Bayangin aja es krim Magnum yang biasa gue beli Rp. 10.000,- gue harus menebusnya dengan harga Rp. 16.500,- *Hiks...

19. Terakhir, sebelum booking pesawat, ada baiknya cari tahu mengenai keamanan di Sulawesi Selatan. Kami sampai harus balik arah dan cari jalan lain waktu jalan pulang menuju ke Makassar karena adanya perang di perbatasan.

Kurre'sumanga Toraja. I'm falling in love with you.

* Kurre'sumanga = Terima kasih.

pallawa : orisinal, ramah & keren


Masih di Tana Toraja. Kali ini yang menjadi objeknya adalah Desa Pallawa.

Akses ke Desa Pallawa ternyata gak mudah, petunjuk arah yang gak gitu jelas jadi penyebab utamanya. Ketika sudah sampai, suasana desanya kerasa banget. Makanya, gue bilang ini adalah desa yang masih orisinal.


Pertama kali datang, kami sudah disambut ibu-ibu yang menyuruh kami untuk mengisi buku tamu. Bisa ditebak yang dari Indonesia hanya beberapa orang, wisatawan mancanegara lebih banyak. Well, dunia luar ternyata lebih mengenal Tana Toraja dibandingkan di dalam negri sendiri.

Desa ini terbilang kecil dan sepi. Dunia serasa berhenti berputar ketika hidup di sini. Para wanitanya bekerja membuat kerajinan tangan untuk dijual tapi entah kemana dengan para prianya.


Pallawa adalah desa yang terkenal akan jajaran Tongkonan-nya yang berusia ratusan tahun. Barisan Tongkonan ini berhadapan dengan jajaran alang/ lumbung padi.

Setelah puas melihat-lihat, tanpa basa-basi, si ibu yang tadi menyapa kami langsung mempersilahkan kami untuk masuk ke Tongkonan-nya. Ternyata, bangunan Tongkonan ini sangat sederhana, terbuat dari kayu & hanya mempunyai 2 ruangan. Satu ruangan untuk tidur & satunya lagi dipakai sebagai ruang untuk mendisplay kerajinan tangan. 

Oalah, ternyata dia menjual segala macam kerajinan di dalam rumah. Jadi jangan heran kalau dia sedikit memaksa agar kami membelinya. Barangnya sih sama aja dengan yang ada di tempat lain, malahan harganya lumayan mahal dan susah untuk ditawar.


Bingung toiletnya di mana? Toiletnya terpisah di bangunan lain ternyata.

Setelah semua selesai berbelanja, kami turun kembali ke bawah dan bermain dengan anak si ibu yang masih balita dan ingusan. Namanya coba tebak?  Joshua...hahaha...sama kek gue...

Neneknya Joshua, walau sudah keriput di mana-mana, mau saja difoto. Namun jangan tanya umurnya ya....dia pasti lupa...yang gue inget, mukanya saja yang ramah dan senyum terus. Ya, tebar pesona terus ya nek, biar Toraja tambah harum. Gak cuman di mata Internasional, tapi juga di dalam negri. 

Kete' Kesu mungkin komplit tapi gue juga suka desa Pallawa. Tongkonan-nya lebih tua, ditambah lagi orisinalitas dan penghuninya yang ramah.

I love Pallawa...


September 03, 2012

lemo : neat & unique

Lemo merupakan sebuah kuburan yang dibuat di bukit batu. Bukit ini dinamakan Lemo karena bentuknya bulat menyerupai buah jeruk (limau). Kuburan Batu Lemo ini terletak 7 Km di sebelah utara Makale, Kabupaten Tana Toraja.


Di bukit ini terdapat sekitar 75 lubang kuburan dan tiap lubangnya merupakan kuburan satu keluarga dengan ukuran 3 X 5 M. Untuk membuat lubang ini diperlukan waktu 6 bulan hingga 1 tahun dengan biaya sekitar Rp. 30 juta. 

Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo dapat melihat mayat yang disimpan di udara terbuka dan di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. 


Pada waktu-waktu tertentu, pakaian dari mayat-mayat ini akan diganti melalui upacara Ma Nene.

Menurut gue, tempat penguburan ini yang paling rapi & cantik dari semuanya yang ada di Toraja dan juga paling mahal tiket masuknya. 

 

Goa-goa ini bisa dilihat tapi tidak bisa dimasuki dan untuk melihatnya kami harus mengelilingi sawah

Sawahnya lumayan cantik tapi berjalan di waktu siang bikin gerah di badan.


Di sepanjang jalan dipenuhi kios cinderamata. Yang paling unik yang gak ditemui di tempat lain adalah kipas dari bambu yang kalau dibuka lebar akan menjadi sebuah topi. Dengan harga Rp. 35.000,- sudah bisa dibawa pulang. 


Kios Tau tau juga banyak pilihan, dari yang setinggi 5 cm seharga Rp 20.000,-  sampai yang setinggi orang dengan harga Rp. 14 juta/ pasang. Khusus Tau tau untuk souvenir dalam pembuatannya tidak menggunakan prosesi apapun. 


You're gonna like it too : kete' kesu : the journey has began
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...