Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mei 11, 2014

perenungan waisak 2014


Beberapa hari lagi umat Buddha akan merayakan hari Trisuci Waisak. Kenangan tahun lalu bersama soul mate, ikut ambil bagian dari awal prosesi di Candi Mendut sampai ke Canci Borobudur.

 
Rasanya capek tapi tujuannya tidak tercapai sama sekali. Acara puncaknya menerbangkan lampion malah ditiadakan atau diundur sampai tengah malam menunggu hujan reda. 

Mungkin kalau tidak ada hujan, kebrutalan peserta Waisak kala itu akan lebih parah. Mungkin ada baiknya seperti itu.

Gue pun gak pernah membayangkan kalau peristiwa itu adalah yang terparah dari tahun-tahun sebelumnya.

Kali ini gue cuman mengenangnya menjadi suatu pelajaran yang berharga bagi diri sendiri, bahwa ada baiknya kita menghargai dan menghormati agama lain yang sedang merayakan hari besar agamanya.


Acara gosip di stasiun televisi swasta menjelang hari Natal, pasti ada saja artis yang di shoot sedang beribadah. Dalam hati, emang gak ada berita lain untuk diliput ya? Kalau emang mau wawancara emang gak bisa dilakukan setelah selesai ibadah ya? Bagaimana pun juga itu pasti terganggu.

Gue aja kalo lagi ibadah terus ada yang nangis rasanya gak nyaman dan berusaha untuk lebih konsentrasi lagi.

Tadi malam gue iseng browsing Backpacker Indonesia dan masih ada aja yang ngadain trip untuk perayaan Waisak di Borobudur. Terus gue cek jadwal Walubi, rasanya pengen ngakak.


Jadwalnya dibuat sedemikian rupa agar animo masyarakat yang mau ikutan adalah yang bener-bener mau ibadah. Baguslah, jadi ibadahnya bisa khusuk tanpa gangguan pihak luar.

Semoga ini menjadi perenungan kita bersama. Toleransi antar umat beragam itu masih diperlukan bahkan harus dilaksanakan di negara kita yang majemuk ini.

Walaupun begitu gue masih penasaran untuk nerbangin lampion. Sepertinya harus ke Chiangmai, Thailand pas festival Yee peng di bulan November. Kapan ya bisa kesampean? Suatu saat harus kesampean pokoknya.


Last but not least, Happy Waisak 2558 bagi yang merayakannya.

Mei 10, 2014

kesepian di cafe alberto, senggigi


Kenangan di café Alberto 5 tahun lalu gak pernah terlupakan. Tempat yang cozy untuk dinikmati bareng orang-orang yang kita sayangi. Cuman kali ini gue menikmatinya seorang diri. Berteman senja.

Tempatnya masih seperti dulu. Gak terlalu banyak ornament, waiternya masih pake seragam putih item plus menu yang sama. Yang membedakannya hanya bantal warna-warni untuk selonjoran didepan pantai.

Makan di tempat ini untuk membangkitkan kenangan manis tempo dulu. Tempat yang sama, menu yang sama. Demi satu nama, nostalgia.

Menu tiba dan rasanya ingin mencoba menu lama yang pernah gue nikmati dulu.


Spaghetti Dimare ( IDR 70.000 ) dengan komposisi saus cumi dan topping udang rebus menjadi pilihan yang tidak pernah salah. Harumnya saus dengan cacahan daging cumi dan potongan cabe rawit membuat tak berhenti menyuapnya sampai tandas. 

Lemongrass tea ( IDR 28.000 ) menjadi kesegaran paripurna melepas senja ke peraduannya.


Menikmati senja di depan pantai Senggigi rasanya gak lengkap kalau tidak ditutup dengan pilihan desert-nya. Tiramisu ( IDR 35.000 ) nya berbeda dari yang pernah gue coba. Tanpa ada coklat bubuk. Yang ada hanya rasa manis sampai suapan terakhir.

Seperti juga kenangan tempo dulu, baru terlintas di otak saja sudah terasa manisnya. Bahkan terasa giung.


Sore itu gue merayakan persahabatan kami, tanpa mereka. Karena gue sendiri. Berteman sepi.

Seiring obor di tepi pantai dinyalakan, gue membayar tagihan dan bergegas pulang dengan taxi menuju ke hotel. Tanpa tumpangan gratis pakai mobil pick up yang disediakan restaurant karena antar jemput baru dapat dipergunakan pada jam 9 malam ke atas.


Dalam taxi gue masih terdiam. Masih berteman sepi. Kenangan ternyata rasanya pahit.

Mei 09, 2014

dua malam di the jayakarta lombok beach resort



Nginep di The Jayakarta Lombok itu menambah referensi list hotel yang pernah gue singgahi sebelumnya. 

Hotel bintang 4 ini mempunyai kamar type bungalow yang berdiri sendiri. Kamar-kamarnya tersebar bukan hanya di satu bangunan saja. Ada kelebihan dan kekurangannya sih. Kelebihannya jadi lebih private dan gak berisik. Kekurangannya untuk mencapai kamar paling ujung butuh tenaga extra karena sama sekali gak ada lift ataupun escalator.


Kamarnya walaupun bersih dan punya bathtub tapi bangunan dan perabotannya termasuk tua. Kamar bisa diakses memakai kunci seperti di rumah. Dan yang bikin lebih shock ada pemberitahuan yang bilang kalau pihak hotel tidak bertanggung-jawab atas kehilangan yang terjadi di kamar hotel. What?


Antara kamar hotel dengan pantai hanya berjarak selemparan batu dan pantainya tidak diprotect hanya untuk tamu hotel tapi boleh dinikmati untuk penduduk setempat. Jadi siapa pun bisa iseng untuk masuk ke area hotel. Lagi-lagi ada kelebihan dan kekurangannya. Coba pergi ke Bali, pantai depan hotel pasti segmented banget, gak bisa sembarangan diakses dan buat pengunjung non tamu hotel musti bayar dengan alih-alih membayar makanan dan minuman. Gak semua memang.


Tamu hotel merasa unsecure dong. Apalagi kunci kamar juga hanya kunci biasa, kasarnya didobrak juga orang bisa masuk. Belom lagi pintu satunya lagi yang menghadap beranda dan pantai hanya diselot saja. Hmmm...

Memang selama menginap di sini tidak ada kejadian kehilangan di kamar. Tapi rasa was-was nya itu loh.


Makanan lumayan enak dan variant-nya banyak. Itu yang gue suka jadi gak bosen walau nginep berhari-hari. Makan malam di pinggir pool juga sangat menenangkan. Suasananya santai dan menyenangkan.

Spa gak sempet nyobain karena waktunya yang mepet. Harganya standart dan bisa dilakukan di kamar hotel. 


Lagi-lagi gue gak gitu suka ama staf Front Office nya. Waktu gue menanyakan apakah kunci kamarnya bisa minta satu lagi karena masing-masing punya acara yang berbeda. Jawabnya ya ampun ketus banget, “Cuman satu.” Gak bisa lebih halus ya, mas?


Kesan menginap di hotel Jayakarta, boleh lah ya. Terletak di depan pantai Senggigi. Pantai ini bisa diakses 24 jam sesuka hati. Dari segi variant makanan dan citarasa tidak mengecewakan. Dan karena tidak ada jaminan keamanan dari pihak hotel, lebih baik koper dikunci dan jangan lupa periksa pintu apakah sudah terkunci sempurna atau belum dan tidak meninggalkan barang berharga ketika meninggalkan kamar. Satu lagi, banyak taman yang terawat dan menyejukan mata dan bisa jadi objek foto. Atau mau lihat guest comment dari Agoda dulu sebelum memutuskan menginap di sini? Sok mangga wae.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...