Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Juni 28, 2017

solo traveling ke myanmar

Traveler from Brazil at U Bein Bridge
Pemilihan Myanmar sebagai destinasi traveling kali ini bukan tanpa alasan. Magnetnya tentu saja Old Bagan dengan hamparan ribuan candinya. Yah, walaupun tanpa balon udara sebagai pemanis karena belum musimnya tidak menyurutkan keinginan gue untuk menyambanginya. Tiga tahun lamanya gue menunggu kesempatan ini datang.

Negara ke-7 ini sukses menempel dengan manisnya di lembaran passport Indonesia gue edisi baru. Sebagai pemegang passport Indonesia, Negara Myanmar membebaskan biaya visa untuk izin tinggal selama 14 hari ( masuk via airport ).

Kalimat pertama di Myanmar dari taxi driver bernama So-so yang cukup lama berinteraksi di dalam mobil yang membawa gue ke Aung Mingalar Station Bus dari airport adalah, “It’s impossible.” Ketika gue mengutarakan akan pergi ke Hpa An malam itu di hari yang sama. Apalagi waktu gue menjabarkan hari ke-2 harus ke sini, hari-ke-3 musti udah nyampe ke sana. Dia terbengong-bengong. Gue sih gak jiper, nyantai aja. Yakin pasti bisa. Eh, dia malahan curhat kalo cewenya orang Hpa An. Damn...

Monks at Mandalay Royal Palace
Traveling kali ini tuh cukup menguras energi karena itin belum fix dan kerjaan lagi numpuk. Lampu ijonya, cuti gue di acc, jadi udah tenang tinggal go show sambil persiapan printilan-printilannya.

Obat-obatan sih standart, bawa Ester C, Tolak Angin, Panadol dan Decolgen udah wajib ditambah Diatabs, kalo sampe mules-mules. Terbukti, di perjalanan menuju Inle Lake, gue kena diare. Sepertinya gara-gara makan chili flakes. Padahal cuman makan seiprit efeknya dahsyat. 

Monks at U Bein Bridge
Myanmar kayaknya gak punya epidemi apapun yang mengharuskan harus suntik malaria dan lain sebagainya. Yang penting badan sehat, siap untuk overland dan gak cacingan. Hah?

Asuransi perjalanan gue beli untuk cover Negara Asean. Gak ada salahnya lah daripada pas butuh malah gak punya.

Dalam benak gue gak pernah nyamain Myanmar dengan Indonesia, karena memang bukan untuk diadu atau dibandingkan. Ekspektasi gue gak berlebihan, yang mau dikunjungin udah di list, bisa engganya tinggal dijalanin. Foto-foto Myanmar di medsos cukup menjadi penyemangat kalo beberapa hari ke depan gue bakal ada di sana.

Monks at Mahamuni Pagoda
Bule temen join tour, sempet nanya kok gue solo traveling? Jawab gue, semakin banyak orang yang ikut akan semakin banyak keinginan yang belum tentu sependapat dengan isi otak gue. Lagian gue cukup egois, gak terlalu suka berbagi dan rada susah toleransi. Ketika dijalani sendiri, gue merasa free, gak terikat dan ini gue banget.

Gak mikirin kapan waktunya makan atau kapan saatnya tidur atau kapan harus berhenti. Semua didasari keinginan hati, ketika perut minta diisi berarti gue harus cari makanan, ketika diri mulai lelah, gue akan istirahat dan ketika gue merasa cukup, itu tandanya harus stop.

Local people at U Bein Bridge
Semakin gak ada yang nyariin semakin bagus, karena traveling itu sweet escape, keluar dari rutinitas untuk melihat dunia luar yang penuh keajaiban.

Bukan berarti solo traveling gak punya kekurangan. Buat gue yang moody, jaga mood tetap stabil menjadi salah satu kesulitan tersendiri. Ketemu temen seperjalanan yang menyenangkan itu bonus.

Solo traveling ke Myanmar jelas membuka mata, berkaca kalau negara kita jauh lebih maju dan modern. Obvious banget, tapi gue gak cari itu semua. Gue malahan mau nyusurin waktu yang terkesan lambat, kesederhanaannya dan sisi relijius warganya. Tanpa disangka, walaupun mungkin kelihatannya norak, orang sana banyak yang menarik secara garis wajah. Roman khas Asia dan cukup bikin hati berdesir ketika mata melihat keindahannya.

Monks at U Bein Bridge
Sewaktu join tour di Hpa An, gue dengan 4 bule lainnya mengunjungi Lumbini Garden. Driver bilang waktunya 45 menit, ya udah gue langsung masuk diantara hamparan patung-patung Buddha untuk selfie. Bule-bule lainnya juga pada turun dari tuk-tuk dan foto-foto di dekat jalan. Lumbini Garden itu isinya cuman patung-patung Buddha dengan latar Gunung Zwegabin. Gue pikir, kan 45 menit tuh lama, ya udah santai dong. Pas, gue balik ke parkiran tuk-tuk, gak ada siapa-siapa. Di gerbang masuk juga gak ada. Apa mereka udah jalan lagi ke tempat yang lain? Lumayan panik dan sebel juga. Kan kalau mereka mau jalan, bisa teriak kan?

Akhirnya gue jalan terus menuju ke dalam sekitar 2 kilo dan tuk-tuk beserta bule-bulenya lagi parkir sambil makan es krim. Sial gak tuh? Di situ gak ada apa-apa juga. Apa gue yang salah karena terlalu asik sendiri? Pokoknya kesel banget, gue gak bisa diginiin...

Yang paling tidak berkesan waktu gue ke Inle Lake dimana gue ketemu sama orang paling nyebelin se-Myanmar. Udah mah menurut gue Inle Lake tuh overrated, mahal dan gak terlalu menarik. Menurut gue loh ya. Gue udah tahu sebenernya dan sengaja mau cari tahu kebenarannya. Tiap kepala pasti beda pandangan, jangan terlalu percaya dengan masukan satu orang.

Kiddos at Sadan Cave
Kota yang asik tentunya Mandalay, gak terlalu hectic dan kalem tapi kalau untuk hidup, gue akan pilih Yangon karena masih ada mal gede, banyak gereja dan lebih hip. Hahaha...

Yang belum di explore hanya kota-kota di sekitar Mandalay seperti Mingun, Inwa & Sagaing. Bukan karena gak cukup waktu tapi lebih karena hujan, mood lagi gak bagus dan pengen males-malesan aja. Dibilang nyesel, gak terlalu lah ya. Untungnya masih sempet ke Amarapura, nyusurin U Bein Bridge yang terkenal itu. 

Entah kenapa paling sering dikira orang Jepang atau Korea dan orang lokal lebih suka ketemu bule dan foto bareng mereka dibanding gue. Gak masalah, gue bukan selebritis juga.

Newlyweds at Kutodaw Pagoda
Keseharian mereka tuh nyantai banget, ngunyah sirih, pake kemeja, handphone nyelip di longji dan sendal jepit. Mau ibadah, mau ke mal, ya gitu aja outfitnya. Sederhana sekali, Hidup seperti itu kayaknya indah dan jauh dari hedon. Apa mungkin dikehidupan gue yang sekarang bisa hidup sesantun itu?

Secara keseluruhan, gue sangat menikmati setiap detiknya solo traveling ke Myanmar. Walaupun harus ketemu orang menjijikan di Inle Lake, miskom dengan driver di Mandalay yang jadi bikin gak mood, dan balas marah-marah di pagi buta waktu baru nyampe Bagan dengan calo di terminal bis. 

Apapun itu, menjadi bumbu yang memperkaya rasa. Untuk menjadi mie goreng yang maknyus, harus ada kecap manisnya, sedikit merica, sedikit garam, penyedap rasa, bawang putih dan merah beserta bumbu lainnya yang dibutuhkan. 

Hanya saja, kalau mau bidang pariwisatanya lebih maju lagi, banyak yang harus dirubah. Seperti calo-calo yang suka mark up harga, tukang tipu yang bilang iya di awal tapi kenyataannya beda, belum lagi tukang jual cinderamata yang suka maksa. Bahkan kalimat pertanyaan yang selalu ditanyakan, "Where do you come from?" itu lumayan mengintimidasi. Hayati lelah bo dengan pertanyaan-pertanyaan itu. 

Thailand yang udah maju pariwisatanya aja masih banyak scam bertebaran. Indonesia juga sama. Siapa yang gak ilfil, kalo ke Kawah Tangkuban Parahu di Bandung, driver angkot bisa patok harga suka-suka? Dimana-mana sama, gimana kita pinter menyikapinya aja dan jangan malas untuk browsing untuk sekedar cek harga pasaran, biar gak ketipu banget-banget. Namun, sepintar apapun kita, kalau gak ada pilihan lain, yang dirugikan tentu saja kita sebagai traveler. Dipikir-pikir, apakah Thailand kekurangan wisatawan asing walau banyak scam dimana-mana? 

Traveling itu gak usah terlalu kebanyakan mikir, dibawa enjoy aja. Sisanya, bawa pengalaman-pengalaman itu untuk disimpan diantara sel-sel otak yang terdalam, agar satu saat, memori itu bisa diceritakan pada anak cucu kita.

Thanaka, T-Shirt, Banana Split, Old Bagan
"Nak, dulu waktu Papa ke Bagan, masa dideketin ibu yang bermulut manis, Papa dibilang ganteng sambil nanya darimana, terus kok pake baju anak muda produksi Myanmar yang terkenal mahal? Sambil jarinya ngolesin Thanaka ke muka Papa terus ngipasin biar kering, ngoceh-ngoceh khasiat Thanaka dan akhirnya nyuruh Papa beli. Giliran ogah-ogahan, malahan ngenyek masa beli baju mahal bisa tapi beli Thanaka yang jelas-jelas bermanfaat malah  gak kebeli?"

"Terus akhirnya Papa jadi beli atau enggak?"

"Ya, beli lah."

"Emang bagus Pa, khasiatnya?"

"Ya gak tahulah..."

"Papa gimana sih? Ibu yang jualannya cantik ya?"

"Engga..."

"Jadi apa dong yang bikin Papa beli?"

"Abis Papa dibilang ganteng, nak..."

*Pingsan

Credit : Thanaka

1 komentar:


  1. ASSALAMU ALLAIKUM …………. HORAS … !!! JOM KE MEDAN … !!! JOM KE DANAU TOBA … !!!
    SALAM KENAL TUAN AND PUAN . MINTA IZIN NAK IKUT PROMOTE KAT BLOG TUAN / PUAN

    PERKENALALKAN KAMI DARI AGENCY PELANCONGAN TIARA TOURS INDONESIA. KAMI ADALAH AGENCY PELANCONGAN YANG BER LICENSED DAN PROFESSIONAL. KAMI MENAWARKAN PAKEJ – PAKEJ MELAWAT MURAH KE MEDAN, DANAU TOBA, BERASTAGI DAN TEMPAT – TEMPAT SHOPPING MURAH DI BANDAR MEDAN.

    PAKEJ LAWATAN LAINNYA KE PADANG, BUKIT TINGGI, BANDA ACEH, PULAU SABANG, JAKARTA , BANDUNG, JOGYAKARTA , BALI, LOMBOK, MAKASAR, BUNAKEN, MENADO, TORAJA.

    PAKEJ DITEMPAH SANGAT MENARIK, HEMAT DAN LAYANAN BEST. PILIHAN HOTEL DAN BILIK BERSIH, MAKANAN MENU MELAYU / MOSLEM RESTAURAT (100 % HALAL ) DAN BERPASAL PERHIKMATAN KAMI DISOKONG BEBERAPA UNITS KERETA BARU DAN BUS PERSIARAN.

    DISINI KAMI BAGIKAN PAKEJ MELAWAT KE MEDAN DAN KE DANAU TOBA
    PROGRAM 04 HARI / 03 MALAM ( FULL SERVICE )
    TAK ADA EXTRA BAYAR.
    TAK ADA TIPU – TIPU !!!
    HARGA PAKEJ 04 HARI / 03 MALAM MYR : 380 (10 ORANG )
    HARGA PAKEJ 03 HARI / 02 MALAM MYR : 275 (10 ORANG )


    LAKE TOBA TOUR 05 DAYS – 04 NIGHT
    02 SAMOSIR ISLAND, 01 NIGHT BERASTAGI, 01 NIGHT MEDAN

    MARKET : MALAYSIA
    ITINERARY : PRIVATE TOUR

    DAY 1 : MEDAN – PARAPAT – SAMOSIR ISLAND
    Arrival at Kualanamu International Airport will be welcomed by Tour Guide/Driver. After meeting services drive to Parapat via Pematang Siantar. Enroute you will enjoy a nice view with palm and cocoa estates. Stop over at Paten Shop for relax and shopping local snacks. Lunch will served in restaurant . Arrive in Parapat by ferry /boat transfer to Samosir Island. Check in at botel and dinner will be servet at resturant or hotel.

    DAY 2 : SAMOSIR ISLAND TOUR
    Breakfast in hotel. In the morning by boat charter cruise to Samosir Isalnd to visit Tomok village to see the ancient tomb of King Sidabutar and Ambarita traditional village. Shopping Tours. Lunch will be served in restaurant. Afternoon free program and enjoy the Lake Toba. Dinner at restaurant.

    DAY 3 : SAMOSIR – PARAPAT - BERASTAGI
    Breakfast at hotel. By boat /ferry transfer to Parapat. Leave Parapat for Berastagi through marjarunjung valley. Enjoy ginger tea and fried bananas (personal expenses). Stop at Sipiso Piso waterfall to see this magnificent 110 metres tall waterfall drops from Karo highland with back ground the view of Lake Toba. Proceed to Berastagi and arrival in Berastagi visit the central fruit market to buy tropical fruits, vegetables and flowers. Check in at hotel. Dinner at restaurant

    DAY 4 : BERASTAGI – MEDAN
    Breakfast at hotel. Drive to Medan via Sembahe the windy road and enjoy a nice view from Puncak Sibolangit. Arrive in Medan to visit Maimun Palace to see the Palace of the Sultan of Deli which was established on 1888 and Grand mosque at Jalan Mesjid Raya. Lunch in restaurant. Shopping Tour. Check an hotel and Dinner at restaurant. Free program

    DAY 5 : HOTEL – AIRPORT
    Breakfast at hotel. Free program until time transfer to Kualanamu International Airport for return flight. Tour End.

    SERVICES TERMASUK :
    • TRANSPORT
    • PEMANDU PELANCONGAN
    • HOTEL 3 BINTANG
    • BREAKFAST 3X
    • MAKAN TENGAH HARI 3X
    • DINNER 3X
    • SEWA KAPAN KE SAMOSIR ISLAND
    • KARCIS / TIKET MASUK KE TEMPAT MENARIK
    • MINERAL WATER

    BILA NAK MELAWAT KE MEDAN, SILA CONTACT DAN TEMPAH PAKEJ DI :
    TIARA TOURS INDONESIA
    JLN. PANGLIMA DENAI NO. 76 MEDAN, 20227
    LICENSED : 503/508.SK/IUP/BPW/MM/2011
    TAX NO : 36 555 970 7 122 000
    TEL/FAX : +6261 - 733 59 765
    EMAIL : tiaratoursindonesia@gmail.com
    HP / WA +6281383535091
    HP / WA +6285358982828
    HP / WA +6285762820068

    TERSEDIA LAYANAN SEWA KERETA DAN BUS PERSIARAN :
    TOYOTA AVANZA (05 ORANG ) MYR 155 / HARI
    SUZUKI ERITGA (05 ORANG ) MYR 155 / HARI
    INOVA REBORN (05 ORANG ) MYR 175 / HARI
    ISUZU ELF (11 ORANG ) MYR 235 / HARI
    TOYOTA HIACE (11 ORANG ) MYR 320 / HARI
    MEDIUM BUS ( 27 ORANG ) MYR 500 / HARI

    NOTE :
    HARGA SEWA KERETA SUDAH TERMASUK :
    • DRIVER
    • PATROL
    • EKSIDENT INSURANCE
    • GOVERNMENT TAX

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...