Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Mei 05, 2015

euforia napak tilas 60 tahun perhelatan konferensi asia afrika 2015


Beberapa waktu lalu, di televisi gencar banget berita tentang eksekusi mati duo bali nine, belom lagi gempa di Nepal tapi yang paling ngikutin banget berita tentang 60 tahun Konferensi Asia Afrika yang akan digelar di Jakarta dan juga Bandung. Kenapa antusias banget? Karena gue bisa menjadi saksi sejarah dengan cara ngikutin event tersebut dan yang terpenting adalah jalan-jalan...


Memang pada akhirnya gue cuman ngikutin lewat media TV pas hari H-nya dan itu keren banget. Seminggu berlalu dan euforia penduduk kota Bandung masih aja rame. Kami berdua excited ngikutin napak tilas peserta KAA waktu libur hari buruh sedunia itu.


Dimulai dari Kota Kembang, pusat perbelanjaan dan pedestrian yang hanya ditujukan bagi pengguna jalan kaki. Sekilas tampak seperti Pasar Baru yang ada di Jakarta. Kalau tempatnya sudah jadi pasti bakalan rame banget, pengunjung dan kaki lima tumplek jadi satu.
 

Alun-alun Bandung, tahu sendiri tempat itu gak pernah sepi pengunjung. Taman kota menjadi sarana publik yang menarik dan nyaman untuk disinggahi. Bandung berhias dan semuanya terlihat cantik. Kalo gue jadi warga kota Bandung pastinya gue bangga dan juga seneng karena banyak fasilitas publik yang terawat dan ditujukan buat masyarakat. Bukan pas ada event ini aja tapi Bandung banyak kemajuan yang dapat dilihat dari program kebersihannya, fasilitasnya sampai penataan kotanya.


Lanjut ke arah Museum Sejarah Kota Bandung, di tengah jalan ketemu tanaman gantung dan poster-poster KAA. Gak mungkin gak foto kan? Klik…


Museumnya sendiri tutup karena public holiday.


Ketemu Savoy Homann Bidakara Hotel, tempat para delegasi KAA bermalam. Hotel tua ini berdiri tahun 1871 oleh Mr Homann, seorang yang berwarga negara Jerman. Pada waktu itu hotel ini menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, oleh sebab itu hotel ini dijadikan saksi sejarah KAA di tahun 1955 oleh Presiden Soekarno.


Di sepanjang jalan ini terdapat batu-batu yang bertuliskan negara-negara peserta KAA.


Dari Savoy Homann kami nyebrang jalan dan ketemu Tugu 0 Km Bandung. Adalah HW Daendels yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda yang menginginkan dibangunnya suatu kota. Beliau menjejakkan tongkat ke tanah sambil berkata, “Pastikan ketika aku kembali, aku telah melihat kota yang baru di sini.” Sejak saat itu tempat ini dinamakan Bandung Km 0.


Sejarah selalu menarik ya.


Jalan kaki masih berlanjut. Persinggahan selanjutnya adalah Gedung Pikiran Rakyat. Ada mesin cetak koran ukuran jumbo yang dipamerkan di depan gedung tapi yang lebih menarik tentunya spot yang disediakan untuk lomba foto dengan bingkai Koran Pikiran Rakyat. Klik…


Di belakang Gedung Merdeka terdapat New Majestic, gedung yang dulunya berfungsi sebagai bioskop dengan menggelar film-film bisu yang diiringi dengan orkestra. Lambat laun seiring perkembangan jaman, gedung ini beralih fungsi menjadi  gedung pertemuan dan pertunjukan serta karaoke dangdut. Berganti nama menjadi Asia Africa Cultural Centre sampai akhrinya berubah lagi menjadi New Majestic yang berfungsi sebagai café dan lounge.


Nah, di depan New majestic ini banyak spot buat foto-foto. Klik…


Tuh kan, bukan bohong kalo gue bilang Bandung itu keren, ada program Senin Gratis Damri, Selasa Tanpa Rokok, Rabu Sunda sampai Sabtu Kuliner. Jaman gue dulu, mana ada beginian. Ngomong Inggris aja gak mesti, palingan Jumat doang pake batik. Hebatlah sekarang mah...
 

Balik lagi ke Gedung Merdeka yang hari itu gak dibuka untuk pengunjung. Tambah siang tambah banyak aja pengunjungnya. Dari yang sekedar foto pake HP sampai pake kamera SLR ada. Perhelatannya udah selesai tapi animo masyarakat masih belom juga surut.


Banyak poster-poster dengan muka-muka penggagas KAA. Kata soul mate gue, model sampul majalah Hai tempo dulu. Bener sodara-sodara. Nyeni, keren dan gue suka, artistik banget. Logo KAA-nya juga bagus. Perlu diapresiasi nih untuk bagian design-nya. Melihat dari keterangan di setiap design-nya sepertinya mereka punya komunitas tersendiri.


Museum KAA juga lagi tutup. Dulu, sebelom heboh KAA, pengen banget maen ke museum ini tapi gak pernah jadi. Yah, paling engga nanti suatu waktu berkunjung, koleksi museum ini bakalan bertambah dengan adanya event KAA ini dan akan semakin banyak yang bisa dilihat.


Landscape Alun-alun dari atas jembatan penyebrangan menjadi view yang sayang untuk dilewatkan. Super banget. Di satu sisi, kita bisa lihat Alun-alun dan Monumen KAA yang baru. Saat itu, monumen dalam keadaan rusak makanya sekeliling bangunan tersebut dipasangi police line.


Sisi yang lain adalah Gedung Merdeka dan Gedung Sejarah Kota Bandung.


Gedung Swarha dulunya adalah hotel tempat menginapnya para wartawan yang meliput jalannya konferensi. Sekarang, gedung ini dibiarkan kosong dan hanya digunakan sebagai toko tekstil di lantai paling bawah.


Spot terakhir adalah Jalan Otista - Pasar Baru. Dan yang pengen gue lihat adalah payung warna-warni yang bergelantungan sepanjang jalan ini. Masih terlihat indah walaupun sedikit berantakan diterpa hujan dan angin. Beberapa minggu lagi, semestinya harus dibersihin kalo gak mau tambah acak kadut.

Jalan-jalan kami sudah selesai tapi euforia KAA sepertinya masih berlanjut sampai beberapa minggu ke depan.

Bandung memang seru untuk ditelusuri, baik sejarahnya maupun kulinernya. Bandung terus menggeliat menjadi ibu kota propinsi yang layak diperbincangkan. Carnival dan beberapa acara seni budaya digelar di pelosok Bandung memeriahkan acara KAA ini. Dan sudah sepantasnya bila warga Bandung menjaga kebersihan dan ketertiban kota sedangkan bagi pemerintah juga ditunggu program-program serta terobosan segar yang berguna bagi masyarakat dan bukan cuman pas ada event berskala dunia aja ya, Kang Emil...

Bandung Juara dan Bermartabat, euy...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...